Pertemuan kita diawali dengan tatapan mata. Mengawali perkenalan dengan kata “Hay”. Kau dan aku seperti sajak yang tak pernah habis kata. Masuk lebih dalam, kau memberitahukan bahwa rasa itu mulai ada, dengan pancaran matamu yang setiap kali aku lewat didepanmu, selalu kau curi mata untuk memandangku. Belum lagi ditambah dengan senyummu yang aduhai sendu nan manis.
     Seketika kusadari semua, aku berada didunia pelangi. Sekelilingku penuh akan warna. Indah sekali, seperti kota Andes – Amerika Selatan, menurutku. Pun bukan hanya imajinasiku yang penuh akan warna, tetapi juga hatiku seperti dipertemukan disebuah tempat yang indah, dengan lengkap hiasan bunga dan air terjun yang sejuk, oh “Aku Jatuh Cinta”.
     Kemudian beberapa waktu telah kita lewati, akhirnya jari kita saling menyatu, ketika jari kelingking bersatu “Kata Bernard”. Hari demi hari kebersamaan kita selalu ada, kemanapun dan dimanapun bayanganmu selalu mengikuti, entah saat aku terlelap tidur, atau sedang buang hajat di toilet kamar kecilku. Kau memang memberi warna kehidupan untukku.
     “Cinta” kau sebut namaku dengan lembut. Lalu ku jawab “Iya sayang?” kemudian ia kembali menjawab “Semoga kelak kita bersama hingga senja tiba” lirih terdengar ucapannya. “kalimat itu selalu aku sebut dalam doaku sayang” jawabku pelan, dan ku hapus air matanya yang menetes lirih dalam pipinya.
     Hubungan kita bukanlah hubungan yang sempurna, karena kita hanya manusia, perdebatan hingga keputusan yang salah terkadang menjadi jawaban. Tak hanya bahagia yang menghiasi hari kita, air mata pun selalu mengiringi. Waktu pun tiba, kita berpisah. Kenangan selalu menghantui bertahun-tahun. Melamunkan yang telah hilang. Bagai permukaan yang gersang dan tanpa bunga. Panas gerah dan tak nyaman. Kemana dirimu? Apakah sekarang kau sudah bahagia dengan pilihanmu? Maafkan aku, saat itu aku memang tak ahli dalam mengambil keputusan yang benar, karena saat itu fikiranku masih sangat kekanak-kanakan.
     Aku selalu mengingat, saat kita menikmati hujan bersama, saat kau nyanyikan lagu indah untukku, saat kau kerumahku dan menjengukku saat aku sakit. Kau berbakti untukku, tapi aku khianati kepercayaanmu. Ini memang salahku, biarkan kenangan itu selalu menghantuiku hingga malam. Cinta tak akan pernah mati, ia selalu hidup, tepatnya didalam hati, meskipun hubungan kita telah mati.

     Dimanapun dirimu, semoga tulisan kecil ini kau baca, aku merindukanmu, jika Tuhan berkata iya, tunggu aku, aku akan datang bersama sejuta rasa cinta yang melampaui semesta kupersembahkan untukmu. Taukah kamu aku selalu belajar untuk mengucapkan kata sakral ijab kabul didepan kaca, berharap nanti kubacakan itu, dan kau berada tepat disampingku. Seandainya!