Kubayangkan kembali detik-detik disaat kita masih bersama, kau genggam tanganku dengan sangat kuat seakan tak ingin lepas. Masih tetap kubayangkan detik demi detik disaat hujan membasuh airmata kita berdua, kala itu. ibarat sungai aku merindukan laut, ibarat langit aku merindukan awan, ibarat angkasa aku merindukan seisinya.
     Menjalin cinta dengan menuai kebahagiaan, dan menghujat kesedihan. Itulah kita. Pernah kau bayangkan ? apa yang aku bayangkan sekarang. Mencintaimu dalam diam rasanya membiarkan hatiku lumpuh diam-diam. Mencintaimu dalam diam rasanya membiarkan hatiku mati pelan-pelan. Adakah sedikit titik atau sedikit waktu untuk kembali ke masa itu, saat jari kita masih sama-sama menggenggam, masih sama-sama memeluk dan dihiasi dengan airmata kebahagiaan, bukan airmata kesedihaan seperti saat ini.
     Cinta, bisakah kau mendengar tulisan ini? Bisakah kau memahami tulisan ini? Bisakah kau kembali kekisah kita dengan melihat tulisan ini? Penyesalan memang tak kunjung usai, ada hidup akan ada penyesalan. Kerinduan akan dirimu selalu menghantuiku usai ibadah sholat malam. Ingin ku rangkul dirimu, dan ku bisikan ke telingamu, bahwa aku masih ada, aku disini, dan tak pernah lupa atau melupakan.
     Saling menyalahkan, itulah cara yang selalu kita gunakan. Padahal kita sama-sama tahu aku dan kamu sama-sama masih menoleh kebelakang. Pertemuan kita seisyarat pelangi setelah hujan, cepat lalu menghilang. Tanpa pelukan apalagi senyum atau sapa. Aku hanya minta satu hal padamu, ingatlah selalu diriku meski hatimu sudah dimiliki olehnya. Kenanglah selalu diriku meski aku telah berubah menjadi batu nisan.

Salam, mantanmu.