Selasa, 29 April 2014


   Kubayangkan kembali detik-detik disaat kita masih bersama, kau genggam tanganku dengan sangat kuat seakan tak ingin lepas. Masih tetap kubayangkan detik demi detik disaat hujan membasuh airmata kita berdua, kala itu. ibarat sungai aku merindukan laut, ibarat langit aku merindukan awan, ibarat angkasa aku merindukan seisinya.
     Menjalin cinta dengan menuai kebahagiaan, dan menghujat kesedihan. Itulah kita. Pernah kau bayangkan ? apa yang aku bayangkan sekarang. Mencintaimu dalam diam rasanya membiarkan hatiku lumpuh diam-diam. Mencintaimu dalam diam rasanya membiarkan hatiku mati pelan-pelan. Adakah sedikit titik atau sedikit waktu untuk kembali ke masa itu, saat jari kita masih sama-sama menggenggam, masih sama-sama memeluk dan dihiasi dengan airmata kebahagiaan, bukan airmata kesedihaan seperti saat ini.
     Cinta, bisakah kau mendengar tulisan ini? Bisakah kau memahami tulisan ini? Bisakah kau kembali kekisah kita dengan melihat tulisan ini? Penyesalan memang tak kunjung usai, ada hidup akan ada penyesalan. Kerinduan akan dirimu selalu menghantuiku usai ibadah sholat malam. Ingin ku rangkul dirimu, dan ku bisikan ke telingamu, bahwa aku masih ada, aku disini, dan tak pernah lupa atau melupakan.
     Saling menyalahkan, itulah cara yang selalu kita gunakan. Padahal kita sama-sama tahu aku dan kamu sama-sama masih menoleh kebelakang. Pertemuan kita seisyarat pelangi setelah hujan, cepat lalu menghilang. Tanpa pelukan apalagi senyum atau sapa. Aku hanya minta satu hal padamu, ingatlah selalu diriku meski hatimu sudah dimiliki olehnya. Kenanglah selalu diriku meski aku telah berubah menjadi batu nisan.

Salam, mantanmu. 


Posted on 02.56 by Unknown

No comments

Rabu, 23 April 2014

    Pertemuan kita diawali dengan tatapan mata. Mengawali perkenalan dengan kata “Hay”. Kau dan aku seperti sajak yang tak pernah habis kata. Masuk lebih dalam, kau memberitahukan bahwa rasa itu mulai ada, dengan pancaran matamu yang setiap kali aku lewat didepanmu, selalu kau curi mata untuk memandangku. Belum lagi ditambah dengan senyummu yang aduhai sendu nan manis.
     Seketika kusadari semua, aku berada didunia pelangi. Sekelilingku penuh akan warna. Indah sekali, seperti kota Andes – Amerika Selatan, menurutku. Pun bukan hanya imajinasiku yang penuh akan warna, tetapi juga hatiku seperti dipertemukan disebuah tempat yang indah, dengan lengkap hiasan bunga dan air terjun yang sejuk, oh “Aku Jatuh Cinta”.
     Kemudian beberapa waktu telah kita lewati, akhirnya jari kita saling menyatu, ketika jari kelingking bersatu “Kata Bernard”. Hari demi hari kebersamaan kita selalu ada, kemanapun dan dimanapun bayanganmu selalu mengikuti, entah saat aku terlelap tidur, atau sedang buang hajat di toilet kamar kecilku. Kau memang memberi warna kehidupan untukku.
     “Cinta” kau sebut namaku dengan lembut. Lalu ku jawab “Iya sayang?” kemudian ia kembali menjawab “Semoga kelak kita bersama hingga senja tiba” lirih terdengar ucapannya. “kalimat itu selalu aku sebut dalam doaku sayang” jawabku pelan, dan ku hapus air matanya yang menetes lirih dalam pipinya.
     Hubungan kita bukanlah hubungan yang sempurna, karena kita hanya manusia, perdebatan hingga keputusan yang salah terkadang menjadi jawaban. Tak hanya bahagia yang menghiasi hari kita, air mata pun selalu mengiringi. Waktu pun tiba, kita berpisah. Kenangan selalu menghantui bertahun-tahun. Melamunkan yang telah hilang. Bagai permukaan yang gersang dan tanpa bunga. Panas gerah dan tak nyaman. Kemana dirimu? Apakah sekarang kau sudah bahagia dengan pilihanmu? Maafkan aku, saat itu aku memang tak ahli dalam mengambil keputusan yang benar, karena saat itu fikiranku masih sangat kekanak-kanakan.
     Aku selalu mengingat, saat kita menikmati hujan bersama, saat kau nyanyikan lagu indah untukku, saat kau kerumahku dan menjengukku saat aku sakit. Kau berbakti untukku, tapi aku khianati kepercayaanmu. Ini memang salahku, biarkan kenangan itu selalu menghantuiku hingga malam. Cinta tak akan pernah mati, ia selalu hidup, tepatnya didalam hati, meskipun hubungan kita telah mati.

     Dimanapun dirimu, semoga tulisan kecil ini kau baca, aku merindukanmu, jika Tuhan berkata iya, tunggu aku, aku akan datang bersama sejuta rasa cinta yang melampaui semesta kupersembahkan untukmu. Taukah kamu aku selalu belajar untuk mengucapkan kata sakral ijab kabul didepan kaca, berharap nanti kubacakan itu, dan kau berada tepat disampingku. Seandainya! 

Posted on 17.45 by Unknown

4 comments

Selasa, 22 April 2014


    Hallo, aku punya seorang teman bermain dalam panggung hidupku, dia bukan seorang bangsawan, bukan juga seorang yang bermahkota. Tetapi bagiku dia adalah segalanya. Dia lawan bermain yang hebat, pengolahan rasanya sangat menyentuh dan menikmati. Setiap kata perkata dialog yang ia ucapkan saat itu juga aku terhenti dan mendengarkan apa yang ia katakan. Diibaratkan laut ia adalah mutiara didasar laut yang gelap, bercahaya karenanya. Cerita ini bukanlah cerita murahan seperti sinetron, bukan juga cerita gampangan seperti di FTV. Cerita ini real adanya.
     Kisah menyentuh yang tak tertandingi oleh cerita apapun didunia ini. Kasih sayang ditunjukan bukan hanya lewat kata “I Love You” tetapi lebih kepada tindakan, “ini makananmu, makanlah” atau “Jangan pulang malam, jaga kesehatanmu” dialog yang hebat yang mampu menyentuh mata hati siapapun yang mendengarnya. Mulutnya mengeluarkan kata-kata suci, dia memang benar-benar Tuhannya cinta didunia, di bumi.
     Panggung, kebanyakan orang berdialog karena tuntutan peran yang diberikan oleh sutradara, di panggung kebanyakan mereka yang bermain hanya bersandiwara. Tetapi ini beda, yang aku ceritakan bukanlah suatu dialog atau panggung yang diatur oleh sutradara, tetapi ia diciptakan oleh Tuhan sebagai malaikat tanpa sayap.
     Perannya memang sulit, bukanlah hal yang mudah menjadi malaikat tanpa sayap. Dia mempunyai kesabaran seluas angkasa, mempunyai rasa kasih sayang dan cinta seluas semesta, sepanjang masa dan tak berabad. Teman panggung yang paling hebat, dia adalah IBU-Ku. Salam cinta kasih sayang dari anakmu yang kau beri nama “Aleh Putra Agung”.
    
Bersambung........

Posted on 08.59 by Unknown

No comments

             Dinginnya malam, panasnya siang, aku merasa menggigil dan berkeringat. Hujan menyusul ketika aku termenung disudut dinding kamar dan didepan jendela berembun. Memanggilku dengan lembut “Hallo colombiana” panggilan merdu dari tiupan angin yang menggebu. Lalu ku putar lagu can’t take my eyes off of you – Lady Antebellum mengiringi suasana sendu dan hujan menjadi tempo. Sudah sejam mataku memandang anak-anak bermain dengan riang diluar rumah yang berhujan, “Mereka bermain tanpa beban” gurauku dalam hati.

      Adakah didunia ini yang merindukanku sebagai colombiana? Ketika itu aku berlari dengan sangat cepat kemudian batu kecil tanpa kulihat menyentuh kakiku lalu aku terjatuh. Aku marah, dan melemparkan harapanku kesungai, yang saat itu tepat berada disampingku. Terhanyut mengikuti arus, tak ada yang menggerakannya untuk melawan arus dan kembali padaku. Hingga seketika datang seorang bersayap transparan tepat di Air terjun di Pulau Moyo. Ternyata ia datang hanya memberikanku seusap sapu tangan merah untuk menghapus lukaku. Kemudian ia lenyap.
      Pertemuan sesingkat itu membuatku bertanya-tanya, dan membuatku selalu memikirkannya hingga semalaman aku hanya tidur satu jam. Mahkota dalam mimpiku diberikan kepada cranberries. Aku kalah, dia pemenang dan dia yang mendapatkan lelaki bersayap transparan itu. Mimpiku benar. Harapan akan citaku telah hanyut, sekarang harapan akan cintaku pun mengikuti. Salahkah aku jika aku mengharapkannya untuk mendapatkannya meskipun ia sudah berada pada hati cranberries, sungguh aku tak kuasa untuk melawan. Biarlah waktu yang menjawab. Hujan dikamarku kembali turun, kumulai dari awal. Selama aku masih punya hati, itu berarti aku masih punya rasa untuk kembali merasakan kehadiran seseorang yang lebih baik tentunya, karena hati bersih diciptakan dan dipasangkan dengan hati yang juga bersih, aku yakin, karena itu “Firman Tuhan”. 

Posted on 08.44 by Unknown

No comments

Minggu, 20 April 2014

Taukah kalian diam itu benar-benar menyiksa. Aku ingin berbicara tetapi entah harus kepada siapa. Mereka pun enggan berteman bahkan untuk mendekatpun tidak. Saat itu memang benar-benar dunia tidak pro kepadaku. Apakah yang harus disalahkan itu budaya? Setauku tak ada budaya yang saling menyakiti batin atau bahkan hati. Teladankah saat itu? ku rasa tidak. Tidak, Tidak dan TIDAK!
     Senyum sangat miskin bahagia pun mengikuti. Jangan salahkan aku jika suatu saat aku masih menyimpan rasa yang teramat sakit terhadap telunjuk-telunjuk kalian yang menunjuk tepat didepan kepalaku. Aku tau kalian berada sedikit diatas dari posisiku, bukan berarti kalian harus membuat bola hitam yang ketika itu dengan mudah dilempar sampai pada kepalaku tak berkutik otakku marah.
     Sebenarnya perlawanan itu ada, tetapi makan awan itu hal mustahil, menyusuri angkasa tidak mudah dengan satu tongkat, dan mesin yang tua. Saat itu aku butuh madu untuk mengobati luka memar yang berdarah. Tetapi aku kebingungan madu apa itu, apakah manis atau pahit kelat dan pekat. Piano sonata in a major yang saat itu aku gunakan untuk merebahkan kemarahanku merah mukaku sudah menunjukan. In my place pun salah satu instrumen yang aku mainkan, tetapi tak ada satupun yang mengerti, mereka tuli dan buta, mereka memang benar-benar hitam tak berwarna.
     Sudahkah kalian sadar atas apa yang kalian lakukan sewindu silam, tak ada penolong selain doa yang aku  panjatkan kepada yang kuasa. Berjalan menyusuri tiang-tiang kurus berkarat dan kebingungan mencari jalan tanpa tanah. Hari pembalasan itu tidak hanya ada dialam akhirat, kalian tinggal tunggu waktu dan pada saat itu tiba kalian akan diam dan menyesali bola itu telah jatuh ke kepala kalian sendiri, busuk amis itulah baunya kelak. Pengkhianat waktu, pengkhianat janji dan pengkhianat nasihat. Sesempurnanya kalian pada saat itu, kelak tiba saatnya kalian akan menjadi bawahan kedai dan disimpan rapi dalam kantongnya bersama makanannya yang busuk dan tak kala kedai tersebut jatuh kelubang yang sama, dan kau ikut dalam iramanya. Aku diam, dan ada saatnya masa akan berbicara aku adalah pemenang!

Posted on 21.41 by Unknown

No comments

Rabu, 16 April 2014


Oleh : Aleh Putra Agung 

Kalian kecam
Negeri ini seperti kedai pelacur tanpa harga
Tetapi kalian bermunafik dan masih menikmati isinyakan ?

Kalian Kecam
Negeri ini sampah yang tak bisa didaur ulang
Tetapi kalian masih betah dan tak beranjak dari Negeri ini, iyakan ?

Kalian Kecam
Negeri ini adalah tempatnya orang gila berpolitik
Tetapi kalian masih mengumbar saran untuk pemimpin yang hebat, itukan?

Kalian Kecam
Negeri ini tempatnya orang-orang bodoh dan miskin
Tetapi kalian sadar, kalian bagian dari negeri ini, benarkan?

Kalian Kecam
Negeri ini tidak mempunyai tujuan
Tetapi kalian berani untuk memimpikan negeri yang kuat dan perkasa, iyakan?

Semua yang kalian kecam bagai belati menusuk jantung Ibu pertiwi ini
Ia sedang menangis kawan, terpuruk,
masihkah kau diam dan berpura-pura menjadi orang yang tak peduli ?

Ingatkah peristiwa hebat sebelum empat lima ?
Darah tertumpah, betapa susahnya merebut kemerdekaan,
tak kalah hebat dengan air mata yang mereka tumpahkan
Bekorban demi kalian, demi kita, demi bangsa ini
Genggam tangan, perkasakan hati beserta harapan
Kita adalah bangsa hebat, kita mampu bangkit dengan impian
Sebagaimana pancasila dan garuda berdiri dengan tegak dan gagahnya
Sebagaimana keadilan dalam undang-undang dasar tercipta

Kita hanya perlu bangkit dengan harapan Seperti 1908, semua orang berteriak dan menyebutkan dengan lantang dan kuat akan Kemerdekaan !!! MERDEKA

                                                                                                

Posted on 22.54 by Unknown

No comments