Dinginnya malam, panasnya siang, aku merasa menggigil dan berkeringat. Hujan menyusul ketika aku termenung disudut dinding kamar dan didepan jendela berembun. Memanggilku dengan lembut “Hallo colombiana” panggilan merdu dari tiupan angin yang menggebu. Lalu ku putar lagu can’t take my eyes off of you – Lady Antebellum mengiringi suasana sendu dan hujan menjadi tempo. Sudah sejam mataku memandang anak-anak bermain dengan riang diluar rumah yang berhujan, “Mereka bermain tanpa beban” gurauku dalam hati.

      Adakah didunia ini yang merindukanku sebagai colombiana? Ketika itu aku berlari dengan sangat cepat kemudian batu kecil tanpa kulihat menyentuh kakiku lalu aku terjatuh. Aku marah, dan melemparkan harapanku kesungai, yang saat itu tepat berada disampingku. Terhanyut mengikuti arus, tak ada yang menggerakannya untuk melawan arus dan kembali padaku. Hingga seketika datang seorang bersayap transparan tepat di Air terjun di Pulau Moyo. Ternyata ia datang hanya memberikanku seusap sapu tangan merah untuk menghapus lukaku. Kemudian ia lenyap.
      Pertemuan sesingkat itu membuatku bertanya-tanya, dan membuatku selalu memikirkannya hingga semalaman aku hanya tidur satu jam. Mahkota dalam mimpiku diberikan kepada cranberries. Aku kalah, dia pemenang dan dia yang mendapatkan lelaki bersayap transparan itu. Mimpiku benar. Harapan akan citaku telah hanyut, sekarang harapan akan cintaku pun mengikuti. Salahkah aku jika aku mengharapkannya untuk mendapatkannya meskipun ia sudah berada pada hati cranberries, sungguh aku tak kuasa untuk melawan. Biarlah waktu yang menjawab. Hujan dikamarku kembali turun, kumulai dari awal. Selama aku masih punya hati, itu berarti aku masih punya rasa untuk kembali merasakan kehadiran seseorang yang lebih baik tentunya, karena hati bersih diciptakan dan dipasangkan dengan hati yang juga bersih, aku yakin, karena itu “Firman Tuhan”.